Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif Untuk Indonesia
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel ini adalah ringkasan dari presentasi Annisa Qurani pada acara Membaca Alex Tilaar #3, 19 Agustus 2022.

Sebuah ringkasan oleh Annisa Qurani

“Ilmu pendidikan di Indonesia sudah mati”. Pernyataan kuat dari Prof. Alex Tilaar dalam pengantar buku yang ditulisnya, Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Pernyataan tersebut lahir dari kegamangannya sebagai seorang intelektual kala menyaksikan dan merenungi proses pendidikan di Indonesia setidaknya selama 50 tahun ke belakang.

Sebelum kita mengulas lebih jauh tentang pedagogik transformatif yang ditulis Prof. Tilaar, ada baiknya lebih dulu kita coba memahami perbedaan antara pedagogik dan pedagogi. Sekilas keduanya sama dan berkaitan dengan pendidikan, namun kedua terminologi mewakilkan makna yang berbeda. Pedagogik (dengan huruf ‘k’) mengacu pada ilmu mengajar atau ilmu mendidik, sementara pedagogi (tanpa ‘k’) bicara tentang seni mengajar atau praktek mendidik atau dengan kata lain tindakan mengajar. Berdasarkan judul yang dipakai pada buku, Prof. Tilaar ingin bicara tentang pendidikan sebagai ilmu, bukan sebagai tindakan mengajar. Perenungan atas pedagogik dan pedagogi inilah yang mendasari tulisan-tulisan Prof. Tilaar tentang pendidikan transformatif.

Pendidikan Indonesia bercita-cita menciptakan citra masyarakat Indonesia, tetapi dalam perjalanannya pendidikan Indonesia terpasung oleh pendidikan gaya barat. Replikasi tanpa modifikasi. Lebih banyak bicara tentang hal yang praksis dibandingkan yang fundamental. Padahal, tulis Prof. Tilaar, masalah praksis munculnya dari yang fundamental. Pendidikan Indonesia terseok-seok menghadapi perubahan zaman dan dinamika sosial yang begitu cepat.

Prof. Tilaar mengawali bukunya dengan kritik terhadap pendekatan pedagogik tradisional yang dianggapnya melihat manusia sebagai makhluk yang soliter atau terisolasi dari lingkungannya. Ilmu perkembangan anak, misalnya, hanya bicara tentang tahap-tahap perkembangan yang dilewati individu secara biologis. Padahal seorang manusia dalam hidupnya tidak hanya dipengaruhi kondisi naturaal, tapi juga lingkungan sosialnya. Dan lingkungan sosial tidak bersifat statis, tapi dinamis. Lingkungan yang ada di sekitar manusia adalah produk dari kegiatan dan keputusan manusia itu sendiri sehingga tidak mungkin bicara pedagogik tanpa bicara tentang perubahan sosial. Pedagogik tradisional yang melihat keduanya sebagai hal terpisah tidak bisa mengakomodir pandangan ini.

Bagian pertama buku Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia membahas perubahan sosial dari kacamata sosiologis. Ia banyak mengutip Parsons, Merton, Spencer, dan konsep strukturasi Weberian untuk melihat bagaimana struktur sosial berubah dari adanya ide-ide tentang kemajuan (the idea of progress) yang menciptakan inovasi di level institusi menuju kehidupan yang dianggap lebih baik. Di sisi lain, teori-teori perubahan sosial yang lebih baru menunjukkan bahwa individu dan masyarakat juga tidak bertahan dalam bentuk yang tetap, tapi juga mengalami proses perubahan baik untuk merespon perubahan yang terjadi di struktur maupun perubahan dari interaksi sosial di antara mereka sendiri yang akhirnya juga ikut mempengaruhi struktur. Perubahan yang berangkat dari adanya idea of progress ini melahirkan apa yang disebut modernisasi. Prof. Tilaar menyebutkan 3 hal yang mendorong modernisasi: demokratisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dan globalisasi.

Demokratisasi membuka peluang dihargainya hak-hak individu dan mendorong proses desentralisasi pembangunan. Kelas menengah tumbuh seiring terbukanya akses pada alat-alat produksi dan diakuinya hak-hak pribadi. Sebagai dampaknya, akses pendidikan pun ikut terbuka lebih luas kepada lebih banyak orang. Namun proses demokratisasi tidak berjalan sama di semua tempat. Negara-negara berkembang masih memiliki tantangan dalam pendewasaan demokrasi dengan dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang fluktuatif, yang mana juga berpengaruh pada proses pendidikan yang berlangsung. Terbukanya akses terhadap ilmu pengetahuan melalui demokratisasi juga mendorong ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, terutama yang saat ini kita saksikan dan alami adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan teknologi analog ke digital membentuk masyarakat digital yang membawa seperangkat karakteristik nilai dan etika tersendiri. Ditambah dengan dampak teknologi informasi dan komunikasi pada terjadinya globalisasi, masyarakat kini tidak lagi terkotak-kotak dalam batas-batas geografis dan kultural. Nilai-nilai lama ditantang derasnya arus pengetahuan dan persaingan ekonomi global. Saat dihadapkan pada perubahan yang cepat dan dinamis, bagaimana pendidikan yang bercita-cita menciptakan manusia Indonesia bisa tetap relevan?

Di tengah dominasi modernisasi, manusia Indonesia juga berubah. Prof. Tilaar menyebutnya sebagai Manusia Indonesia Baru. Dari tulisan-tulisannya, Prof. Tilaar tampaknya menggambarkan Manusia Indonesia Baru sebagai masyarakat yang memiliki jiwa nasionalisme dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi atau budaya asli masyarakatnya. Dalam konteks ini perlu kita pahami bahwa semasa hidupnya, Prof. Tilaar menyaksikan perubahan masyarakat dengan seperangkat nilai-nilai tradisional ke masyarakat global yang terhubung lewat teknologi dimana nilai-nilai tersebut ditantang oleh globalisasi. Di satu sisi Prof. Alex menyadari keniscayaan perubahan tersebut, namun di sisi lain ia berusaha mempertahankan nilai-nilai nasionalisme yang khas digaungkan oleh tokoh-tokoh di generasinya. Karenanya, menurut Prof. Tilaar, di tengah pertentangan nilai akibat perubahan sosial, tugas pedagogik adalah mengembangkan masyarakat demokratis yang memiliki kesadaran pada nasionalisme budaya, yaitu pada pengakuan terhadap budaya etnis yang beragam. Bagaimana caranya?

Pendekatan kajian-kajian pendidikan perlu kembali menitikberatkan pada kajian pedagogik atau pendidikan sebagai ilmu, tidak hanya kajian yang sifatnya praksis. Pada suatu waktu pendidikan Indonesia pernah diwarnai oleh kajian-kajian pedagogik, yaitu ketika tokoh pendidikan seperti Ki Hadjar Dewantara mendalami ilmu pendidikan di Eropa dan membawa pulang pengaruh pendidikan khas kontinental. Seiring perkembangannya, pendidikan di Indonesia juga diwarnai kajian-kajian pendidikan di tataran praksis khas Anglo Saxon yang dibawa lulusan-lulusan Amerika. Kajian pedagogi khas Anglo Saxon kemudian banyak diadaptasi untuk mengembangkan metode-metode mendidik anak-anak Indonesia. Hanya saja dalam perjalanannya kajian pedagogik berkurang dan kita kelabakan saat pendidikan Indonesia ditantang pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya substantif.

Pedagogik transformatif adalah jawaban yang diusulkan Prof. Tilaar untuk menjawab pertanyaan pendidikan seperti apa yang seharusnya menjadi landasan pendidikan di Indonesia. Pedagogik transformastif memiliki akar filsafat kritis, dimana pendidikan tidak boleh terlepas dari kondisi masyarakatnya. Identitas manusia merupakan hasil konstruksi sosial, karenanya kesadaran sosial tidak bisa dipisahkan dari proses belajar individu. Pemikiran Michel Foucault tentang konstruksi identitas banyak mewarnai pedagogik kritis, disamping teori-teori sosial khas mahzab Frankfurt. Pemikiran-pemikiran kritis ini yang mendasari gagasan pendidikan yang membebaskan oleh Paulo Freire. Bagi Freire yang seorang eksistensialis, pendidikan seharusnya membebaskan manusia untuk berpikir, memilih, dan bertindak. Kesadaran seorang manusia sangat penting untuk mengubah nasib hidupnya. Untuk menciptakan kesadaran ini, anak didik haruslah diposisikan sebagai subjek pendidikan yang memiliki alam berpikirnya sendiri agar dapat menyadari posisinya di dalam kehidupan sehingga mampu membuat perubahan. Pendidikan tidak boleh membuat manusia menjadi terasing dari konteks masyarakatnya. Prinsip-prinsip pedagogik kritis seperti dialog, ilmu sebagai konstruksi sosial, dan kesadaran kelas, menjadi landasan dalam perumusan pedagogik transformatif yang dipaparkan Prof. Tilaar.

Filsafat kritis yang mendasari pedagogik transformatif melihat bahwa realitas masyarakat terus berubah. Kebenaran terus-menerus dipertanyakan dan dipertentangkan dengan adanya produksi dan reproduksi pengetahuan. Kebudayaan adalah hasil dari interaksi-interkasi manusia, sehingga kebudayaan pun adalah entitas dinamis. Sebaliknya, kebudayaan pun turut mempengaruhi perkembangan manusia. Jadi antara manusia dan kebudayaan akan terus saling mempengaruhi. Agar produksi dan reproduksi kebudayaan terjadi, kita perlu menyadari bahwa interaksi yang secara natural terjadi di antara individu maupun individu dengan kelompok perlu diakomodir dalam proses pendidikan. Karenanya dialog merupakan salah satu prinsip utama yang juga ada di dalam pedagogik transformatif.

Prof. Tilaar menilai, dalam perkembangan manusia yang tidak soliter atau terasing dari lingkungannya, ada relasi antara aku dengan bentuk-bentuk aku yang lain. Aku adalah bentuk eksistensi seorang individu dan memiliki komponen-komponen keberadaan dalam pencarian perannya dalam kehidupan. Di antara komponen-komponen eksistensial aku yang lain yang disebutkan Prof. Tilaar adalah adalah aku yang otonom dan aku yang transeden. Komponen ini menggambarkan konsep diri yang terbuka dan selalu dalam proses untuk menjadi. Ia memiliki energi untuk mencerna hal-hal di luar dirinya dan merefleksikannya ke dalam diri untuk menciptakan realitas. Aku yang otonom membentuk hubungan antara aku, kamu, kami, dan mereka dengan menilai kesamaan dan perbedaan antara diri dengan individu yang lain di dalam realitasnya. Berikutnya, aku yang transeden menunjukkan pandangan Prof. Tilaar bahwa kehidupan manusia tidak semata memiliki relasi horisontal dengan sesama manusia, tapi juga memiliki dialog vertikal dalam hubungannya dengan Tuhan. Aku yang transeden mengisi kekosongan pengetahuan yang tidak diketahui manusia dengan komponen spiritual agar manusia tetap bisa menjalani kehidupannya di tengah ketidakjelasan dalam realita yang ada. Adanya komponen aku yang transeden bukan berarti mengikat manusia pada suatu entitas yang menghalanginya dari kebebasan, melainkan justru membebaskan manusia dengan mengakui keterbatasannya.

Aku dan aku yang lain berinteraksi dialogis di dalam kesadaran manusia sehingga terjadi proses indviduasi. Singkatnya individuasi ini adalah proses penemuan jati diri atau makna diri atau penemuan identitas. Dalam proses interaksi antara aku dengan aku yang lain, ada proses partisipasi dimana proses dialogis antar komponen diri diberi ruang untuk saling mempengaruhi. Interaksi juga terjadi di dalam dunia proksimitas, yaitu dunia yang paling dekat dengan individu atau dalam hal ini lingkungan sekitar. Jadi dalam proses individuasi, pembentukan jati diri tidak hanya dipengaruhi komponen-komponen di dalam diri, tapi juga proses partisipasi dengan lingkungannya. Identitas tanpa partisipasi akan menghasilkan kekerdilan perkembangan pribadi dan tanpa arah. Partisipasi tanpa identitas akan menghasilkan individu layaknya cetakan mesin.

Proses individuasi, menurut Prof. Tilaar, adalah tiada henti. Individuasi adalah proses pengembaraan dan penemuan untuk kemudian mengembara lagi dan menemukan kembali. Di dalam proses inilah seharusnya pendidikan berperan untuk mengakomodir. Orang tua, guru, adalah peserta dialog sama halnya seperti anak atau murid dan hanya berbeda dalam hal pengalaman hidup. Setiap peserta didik adalah partisipan dalam kehidupan kelompok. Dalam proses menjadi partisipan, ia tidak hanya menerima, tapi juga memberikan sesuatu dari dirinya melalui interaksi sosial. Dalam proses menerima dan memberi itulah manusia berkembang menjadi individu baru yang berbeda antara sebelum dan setelah mengalami interaksi.

Inilah hakikat dari pedagogik transformatif yang melihat pendidikan sebagai ruang temu atau ruang dialog antarmanusia. Di dalam proses pendidikan dialog terus-menerus dilakukan, bergulir, dan dalam prosesnya individu menemukan eksistensinya, menemukan perannya dalam kehidupan yang juga terus berubah. Sebagaimana filsafat kritis yang mendasarinya, transformasi dihasilkan dari adanya ketegangan terus-menerus dalam proses pembangunan identitas. Penerapan pendidikan transformatif dalam praksis pendidikan diwujudkan melalui stakeholder society dimana anggota masyarakat memiliki kepentingan bersama untuk membangun masyarakat itu sendiri. Semua pemangku kepentingan, yakni masyarakat, orang tua, peserta didik, negara, dan pengelola profesional wajib bahu-membahu untuk menciptakan ruang yang kondusif untuk terjadinya dialog yang partisipatif bagi setiap individu peserta pendidikan.

Lebih jauh dalam bukunya Prof. Tilaar memaparkan bagaimana pedagogik transformatif berperan dalam mendorong pendewasaan demokrasi di Indonesia melalui pembangunan multikulturalisme dan persatuan nasional. Namun ulasan tentang hal ini lebih tepat jika disajikan bersama karya-kara Prof. Tilaar yang lain yang bicara tentang praksis pendidikan di Indonesia. Mengutip Prof. Alex Tilaar dalam bagian akhir kata pengantarnya, “Masyarakat demokratis adalah masyarakat partisipatif.” Dalam upaya mencapai kehidupan demokratis di tengah zaman yang terus berubah, ruang partisipasi dibutuhkan untuk bisa berkembang. Pedagogik transformatif adalah jawaban Prof. Alex Tilaar atas tantangan zaman.

***

Identitas Buku

Judul : Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia
Penulis : HAR Tilaar
ISBN : 979-695-735-3
Penerbit : PT. Grasindo
Tahun terbit : 2002
Cetakan ke : Pertama
Jumlah hal : Xlvii + 554
artikel lainnya